03 september 2012, pukul 5 sore
Hari Senin yang cukup padat di Jakarta, kami memutuskan berkumpul
di Halte Busway Terminal Kalideres. Ideku untuk kita berkumpul lebih awal
karena mengingat hari kerja yang biasanya macet. Aku sangat tidak ingin
ketinggalan kereta.
Yang tiba pertama di meeting point kami adalah Kacunk. Dia
sudah terlebih dulu masuk ke area halte dan menunggu didalam karena bawaannya
lumayan banyak. Dialah yang bertanggung jawab akan perbekalan air dan makanan
untuk kami nanti di perjalanan. Dia juga sang leader yang siap untuk membawa
kami berpetualang dan direpoti oleh kami nantinya heheheheee. Aku akhirnya
diantar oleh Bapak sampai belakang terminal dan saat ku celingukan mencari yang
lain, aku lihat temanku Ati turun dari angkot dengan gerembolan bawaannya yang
ga begitu banyak. Kami masuk bersama dan ternyata dia benar naik angkot, tega
sekali orang rumahnya tidak ada yang mengantar kepergiaannya untuk 5 hari
kedepan ke kota nun jauh disana.
Hanya menunggu satu lagi anggota kami, Kunpi. Sesuai julukan
kami kepadanya, Kunpi adalah plesetan dari pikun. Jarak rumahnya yang terjauh
diantara kami, melewati beratus polisi tidur, beribu gang dan bermiilyar
kerikil. Tapi tetep saja dia yang belum memiliki kesadaran diri untuk berangkat
lebih awal. Setengah jam hampir berlalu, aku dan Ati yang menunggu diluar
akhirnya masuk karena pundak kami sakit menahan tas ransel kami yang segede
gaban. Kami bergabung bersama Kacunk. Aku sudah menebak kalau si Kunpi teman
kami telat karena dianu oleh pacarnya.. Lhooo?? maksudku diantar oleh pacarnya
naik motornya dengan kecepatan 20 km/jam supaya menikmati perjalanan lebih lama
hehehehheee..
Setengah jam tepat Kunpi akhirnya tiba dengan sumringah,
tapi terlihat lucu karena badannya yang sedang menggotong gotong ransel milik
abangnya yang paling besar ukurannya diantara ransel –ransel kami. Tanpa
menunggunya menghela nafas, kami langsung bergegas mengantri. Karena sedari
tadi banyak sekali armada Busway yang mengarah ke Pulogadung. Kami takut
kehabisan bus di terminal karena sekarang berbarengan dengan jam pulang kerja
yang otomatis semua armada bus keluar. Cukup lama kami mengantri tidak terasa
lagi karena diselingi canda tawa yang selalu bikin heppi. Armada bus bewarna
abu-abu pun datang, kami langsung berebut masuk duduk di area khusus wanita.
Aku pertama duduk, Kunpi disebelahku dan Ati desebelahnya lagi. Sedang si
Kacunk terpisah di depan barisan kursi kami.
Bus melaju cukup santai, kami pun melanjutkan obrolan kecil.
Tiba tiba goody bag Kacunk yang diletakkan di samping kakinya terjatuh, aku
mentertawinya karena makanan dan minuman dalam tas tersebut sedikit terlihat.
Aku suruh dia untuk jangan nglamun dan pegangi tasnya. Tapi dasar sial, goody
bag milikku juga terjatuh dengan cara yang lebih lucu. Pisang sunrise yang
kubawa keluar dan menggelinding mengajak kejar-kejaran dengan aqua gelas yang
juga ikut menggelinding. Malu sekali tapi tetap aku berteriak pada Kacunk,
makanya dipegangin cunk… heheheeee
Disetiap pemberhentian bus, masuk penumpang yang sedikit demi
sedikit membuat penuh sesak busway yang kami tumpangi. Dan entah di Halte mana
bus menjadi benar-benar sesak dan Kacunk yang duduk tidak satu barisan dengan
kami tertutup oleh pinggul-pinggul penumpang yang berdiri berjejalan. Dia lepas
dari pandangan kami bertiga, entah apa yang dilakukannya disepanjang
perjalanan. Karena aku dan Kunpi cukup asyik mengobrol kelengkapan yang kami
bawa. Sementara Ati, dia tertidur karena rupanya dia tidak sempat tidur
siangnya.
Satu jam lebih perjalanan, bus pun berhenti di Halte Senen
dan kami bersiap turun. Kami tidak langsung keluar dari halte karena rupanya
Ati sedang pusing, sekedar mengingatkan dia ini paling tidak kuat dengan bus.
Hanya dengan naik bus sebentar mampu membuatnya pusing dan mual-mual. Jadi
siapa yang harus bertanggung jawab ??? Kami mengajak Ati beristirahat sejenak
di kursi besi yang umum ada dalam tiap halte busway. Namun saat itu kondisi
halte sedang penuh sesak oleh antrian penumpang jadi kami tidak bisa berdiri
bergerombol. Aku berdiri paling jauh dari kursi dengan dibelakangi pula oleh
ransel Kacunk. Aku mengalah karena memang untuk duduk saja, kulihat tubuh Ati
harus miring 60 derajat sehingga sangat mungkin
membuatnya bertambah pusing. Tapi yang kami sesalkan adalah sikap petugas
busway berompi orange yang berkata “jangan dijalan mbak”. Geram sekali aku
karena jelas-jelas kami tidak menutupi jalan, mereka yang salah meletakkan
kursi besi itu di area jalan halte!!! Kami pun memutuskan turun dari halte dan
menuju stasiun. Sekarang aku menyadari siapa yang harus bertanggung jawab atas
pusing-pusingnya Ati, tidak lain dialah si petugas busway sok tau itu…
Dari halte busway menuju stasiun Pasar Senen kurang dari 1
km mungkin, karena kami ga sempet ngukur
- ngukurnya. Kami berjalan kaki dari situ dan sampailah di stasiun. Kala itu
waktu baru menunjukkan pukul 7 malam. Loket tempat masuk untuk kereta kami
belum dibuka karena keretanya pun belum tiba. Jadilah kami mencari emperan
kosong untuk duduk, sangat disayangkan memang fasilitas tempat duduk untuk
calon penumpang kereta ekonomi tidak memadai. Setelah sempat mondar – mandir ke
toilet karena jujur aku grogi naik kereta api untuk pertama kalinya dalam
perjalanan jauh dan tidak beserta keluarga hanya dengan perbekalan uang
secukupnya disertai kondisi kesahatanku saat itu belum siap ( aku terserang
pilek satu hari menjelang berangkat ), jadi obat anti masuk angin saat itu
dirasakan sangat besar jasa – jasanya bagiku dan teman – teman.
Pukul 08.00 malam, loket masuk dibuka, dan pada saat itu
bersamaan dengan dibukanya loket antrian untuk tujuan Solo. Jadi loket masuk
kami melalui pemeriksaan meja security sebelah kiri sedangkan untuk tujuan Solo
berada di sebelah kanan. Sedangkan untuk pintu masuknya, antrian tujuan Solo
maupun tujuan Jogjakarta adalah melalui pintu yang sama. Bayangkan begitu
berdesak-desakannya para calon penumpang kedua kereta yang berbeda tujuan saat
itu. Aku mengantri paling depan diikuti Kacunk, Ati lalu Kunpi. Sangat
mengecewakan pengaturan antrian yang tidak jelas komando dari petugas yang
berjaga. Karena semua penumpang menjadi tidak sabar sehingga terjadi dorong
mendorong dan saling berebut ingin masuk duluan. Melihat keadaan yang semakin
panas sesak, aku memutuskan membagi tiket pada masing – masing temanku agar
pemeriksaaan lebih tepat tanpa ada kesalahan orang. Seorang ibu disampingku
yang tingginya hanya sebahuku terjepit saat ingin masuk, namun banyak petugas
yang tidak mampu memberi jalan lebih layak untuk kami calon penumpang lewat.
Akhirnya dengan susah payah kami berempat berhasil masuk dan mengambil posisi
duduk menunggu di peron.
K3 gerbong 1, 9A, 9B, 9C dan 9D nomor urutan tempat duduk
kami. Agak kecewa karena teman kami, Kacunk duduk terpisah di kursi untuk dua
orang sebelah kami. Ada cerita dibalik urutan tempat duduk kami yang gagal
untuk berhadapan.
08 Agustus 2012
Aku, Kacunk dan Kunpi sepakat bertemu di Halte Busway
terminal Kalideres untuk menuju stasiun Pasar Senen. Ati tidak bisa ikut karena
dia kerja. Hehehee sebenarnya itu ideku juga mendoktrinnya untuk kerja sebulan
saja sebagai tambahan penghasilan untuk ongkos ke Jogja. Tapi malah aku tidak
jadi kerja dengan alasan tidak mendapat restu dari Bapak yang mengatakan
“Memang kamu ga mau pulang kampung lebaran nanti?”
Aku yang datang pertama dan langsung masuk menunggu di dalam
halte. Begitu Kacunk dan Kunpi tiba, kami langsung mengantri untuk tujuan
Pulogadung. Antrian lumayan panjang dan buswaynya seperti biasa selalu lama.
Kami buru-buru masuk begitu bus berwarna abu – abu itu tiba. Namun kami tidak
kebagian tempet duduk. Alhasil, ideku untuk kami bisa duduk di tangga pintu
depan busway. Tak apalah kami ngedeprok, asal tidak berdiri capek. Karena kami
sedang berpuasa. Bus tiba di halte Senen, kami turun dan cobaan pertama saat
itu adalah di tengah hari tepat kami harus berjalan kaki lumayan jauh dari
halte menuju stasiun Pasar Senen. Dan kala itu, matahari sedang terik –
teriknya. Mungkin sang mentari sedang berbahagia diatas sana dengan memancarkan
sinarnya begitu menyengat.
Wow, begitu ramai kondisi loket saat itu. Kami sedikit
kebingungan setelah kami memutari loket penjualan tiket, kami pun memutuskan
saling berpegangan tangan. Setelah kebingungan mereda, kegalauan melanda.
Rencana awal yang sudah mantap untuk membeli tiket kereta ekonomi untuk
berangkatnya menjadi goyah. Setelah Kunpi menceritakan, ayahandanya menakut –
nakuti bahaya yang mungkin tertimpa Kunpi yang juga mabokan. Perdebatan sengit
antara kami berlanjut. Akhirnya aku mengajak untuk melaksanakan shalat Dzuhur
terlebih dulu sebelum memutuskan membeli tiket apa. Alhamdulillah, selepas
shalat itu Kacunk seperti mendapat ilham dari yang Maha Kuasa. Ia berseru “Sudahlah,
ekonomi saja seperti rencana awal”. hehehehee hiduuup kacuuuunk. Namun, cobaan
kedua muncul setelah kami melewati deretan penjual makanan yang berjajal di
samping jalan menuju loket pemesana tiket. Yang paling menggoda imanku kala itu
adalah beberapa butir Kelapa hijau yang tergantung di depan mata seolah berkata
“Buka aku, rasakan segarnya!!” Alamak, ternyata bukan hanya aku saja yang
sempat tergoda, Kunpi dan Kacunk pun dari dalam perutnya terdengar jeritan
pedih cacing – cacing penuunggu perut mereka.
Kegalauan tidak berhenti disitu, setelah mencari informasi
pemesana tiket. Ada rumor yang memberitakan harus menyertai fotokopi KTP untuk
masing – masing nama yang ingin memesan tiket. Kami hanya bertiga minus Ati,
jadi kemungkinan jika hal itu benar hanya Ati yang tidak bisa mendapat tiket
dengan duduk berurutan. Disinilah cobaan ketiga muncul, terutama menerpa sang
leader Kacunk. Dia yang bertanggung jawab dan paling berpengalaman dalam hal
pemesanan tiket menjadi putus asa. Aku melihat matanya menahan emosi yang
mendidih. Kami duduk ngedeprok di dalam loket yang bersekat dan ruanggan itu
berAC. Supaya Kacunk tidak batal puasa pikirku saat itu. Karena jika ia batal,
kami pun harus batal bersamanya pula. Sekian lama termenung dengan pikiran masing
– masing kami bergejolak dengan es kelapa muda, soto ayam, bakso dan ketoprak.
Kami berniat menguatkan diri dan kembali ke jalan yang benar. Tanpa menyertakan
fotokopi KTP, hanya nomor KTPnya saja kami nekad menuju loket pemesanan tiket
KA ekonomi. Ternyata rumor itu tidak sepenuhnya benar. Bisa saja kami memesan
hanya dengan menuliskan nomor KTP. Tapi karena pikiran kami sudah emosi, kami
lupa untuk mengatakan posisi duduk kami yang ingin berhadapan. Jadilah
terlanjur tercetak urutan 9A, 9B, 9C dan 9D yang ternyata sebanjar.
*** Kembali ke atas Gerbong kereta
Karena yang duduk berhadapan dengan kami adalah sepasang
kakek nenek yang kurang suka begitu kami meminta tolong untuk menyisakan satu
tempat duduk untuk Kacunk. Ya sudah jadilah dia kembali terasing seperti waktu
di busway. Perutku sangat perih karena memang seharian aku belum makan nasi.
Aku membuka bekalku dan mengajak semua makan. Aku bangga saat itu, temanku ikut
makan masakanku mie telor, walau sedikit keasinan. Hanya Kacunk yang tidak ikut
makan, sebab ia membawa bekal sendiri. Umumnya orang Indonesia yang memiliki
prinsip sudah makan tidur, akupun demikian. Baru saja akan memejamkan mata,
Kacunk mangajakku ke sambungan gerbong yang menurut pengalamannya disana enak
terkena angin sepoi – sepoi. Aku memang penasaran ingin kesana. Rupanya Kacunk
ingin makan bekalnya di sambungan gerbong. Tapi sayangnya pintu kereta tidak
dibuka, jadilah aku dan Kacunk ngedeprok di depan pintu gerbong itu. Saat
menunggu Kacunk mengambil bekalnya, aku menyadari ternyata yang kami duduki
persis di depan pintu toilet. Lantas saja aku agak miris melihat Kacunk akan
makan disana. Tapi salut untuk temanku yang satu itu, dia sangat cuek dan tidak
peduli dengan kondisi itu. Yang ada di pikirannya saat itu mungkin bagaimana
bisa melahap semua makanan sehingga tidak ada sisa, ia cenderung malas membawa
– bawa makanan sisa.
Baru saja akan menyantap pulukan pertama nasinya, kereta
berhenti di stasiun Karawang. Ada orang yang mau turun ternyata. Kami pun
terusir dari tempat ngedeprok kami. Lalu muncullah pak Kondektur yang
mempersilahkan kami untuk makan di gerbong depan. Gerbong ini lebih sepi,
nyaman dan berAC pula. Gerbong ini adalah rangkaian dua gerbong ekonomi AC dan
menyatu dengan gerbong makan. Aku yang
sudah makan bekal milikku, tergoda lagi ikut makan bekalnya Kacunk. Kami
melahap habis telor dadar super pedas itu berdua. Selesai makan, aku enggan
kembali ke gerbongku. Sudah pewe heheee. Saat itulah muncul pak kondektur
meminta izin duduk di sebelah Kacunk untuk merokok. Awalnya aku agak keberatan
karena aku dan Kacunk baru saja membahas orang disamping kami yang seenaknya
merokok di gerbong AC padahal tertera tulisan no smoking. Tapi ya sudahlah, toh
semua jendela gerbong ini sudah terbuka dan hawa AC kalah dengan dinginnya
angin malam yang merasuk.
Tak disangka dan tak dirasa, pak kondektur tersebut orang
yang asyik diajak mengobrol. Banyak hal yang kami bicarakan dari masalah umum,
politik, keamanan maupun manajemen hahahaaa. Bapak yang satu ini masih berjiwa
muda. Pak Suardi, begitu yang tertulis di kemeja putihnya. Ia sangat terbuka
saat aku banyak bertanya mengenai sistem perkeretaapian saat ini. Bahkan beliau
memperlihatkan sistem penjadwalan kereta yang kami tumpangi saat itu. Banyak
ilmu yang kami ambil dari beliau. Perdebatan dan tawa pun terkadang menyelingi
pembicaraan kami bertiga. Yaitu saat Kacunk mengadu pada pak Suardi, bahwa aku
pernah melihat kereta dengan lokomotif yang saling membelakangi. Pak Suardi
tertawa lepas sambil berkata bahwa itu tidak benar, nanti keretanya tarik –
tarikan. Itu memang benar, tapi aku sumpah pernah melihat kereta seperti itu. Lalu,pak Suardi menceritakan keluarganya. Terlihat jelas dari sorotan matanya kalau beliau sedang rindu pada anaknya. Karena ia menceritakannya dengan penuh semngat berapi - api. Sampai ia bersedia menunjukkan isi pesan singkat anaknya kepada aku dan Kacunk. Bukannya terharu dengan sms tersebut, kami malah tertawa lantang. Bukan karena isi smsnya yang lucu atau ada gambar emot icon berwarna kuning yang menggemaskan itu. Tapi karena font size yang tercetak di layar hape pak Suardi besar - besar dan tebal. Ini pertama kalinya bagiku melihat handphone dengan tulisan segede gabam itu. Handphone Nokia jadul yang aneh, pikir kami sekenanya. Hahahaaa
Entah saat itu pukul berapa yang jelas hari semakin larut,
tapi justru kantukku hilang dengan pembicaraan seru dengan sang kondektur KA.
Begitu baiknya beliau sampai mentraktir kami kopi susu ABC. Beliau tidak
mengizinkan kami membayar karena harga kopi yang seharusnya Rp 3.000 akan
menjadi Rp 2.000 saja jika ia yang membelinya. Good job pak, hehehee
Belum selesai kami menyeruput kopi panas, kereta sudah
memasuki stasiun Cirebon dan berhenti cukup lama. Pak Suardi pamit hendak
memeriksa tiket penumpang yang kemungkinan baru naik di stasiun tersebut. Aku
dan Kacunk memutuskan kembali ke gerbong kami karena Ati sedari tadi telah
mengirimkan pesan singkat kepadaku bahwa dia mencari kami. Aku mengajak Ati dan
Kunpi turun sejenak untuk meregangkan badan. Aku bercerita bertemu dan dijamu
oleh pak kondektur. Saat itulah beliau muncul dan kuperkenalkan pada Ati dan
Kunpi. Kami mengabadikan momen ini dengan berfoto bersama.
Sisa perjalanan dari Cirebon, kereta akan melalui jalur
lintas Selatan. Aku dan Kacunk kembali ke gerbong bersama Ati dan Kunpi. Aku
dan Kacunk bercerita ditraktir kopi oleh pak Suardi membuat mereka iri. Saat
penjual kopi lewat, Ati dan Kunpi memesan coffemix dan segelas pop mie dengan
minta ditraktir oleh aku dan Kacunk. Namun ada kebetulan yang aneh, seorang
laki – laki yang duduk berhadapan dengan Kacunk membayari makan dan minuman Ati
dan Kunpi. Mas yang satu itu memang seperti mencari pahala, karena setelah
mentraktir kopi dia terus membelikan kami jajanan yang bahkan ada juga yang aku
jadikan sebagai oleh – oleh ke Jakarta. Makasih banyak loh mas heheheee. Kami
memutuskan untuk tidur sebisanya. Namun saat yang lain mampu tertidur pulas,
aku masih terjaga dan sama sekali tidak bisa tidur. Aku hanya bisa memejamkan
mata tanpa merasakan tidur yang sebenarnya. Mungkin ini efek kopi yang barusan
aku minum bersama pak Suardi. Jadi, bagiku sangat tidak disarankan meminum kopi
dalam perjalanan jauh malam hari.
Waktu subuh telah menjelang, kulihat tubuh temanku satu
persatu menggeliat mencari – cari pegangan untuknya bisa bangun. Mereka
terkaget melihatku masih terjaga tidak tidur sama sekali. Kacunk menawariku
tiduran di kursinya yang kebetulan orang disampingnya entah sedang ada dimana.
Aku mencoba terpejam, namun hawa Subuh dan kelakar orang – orang yang baru saja
terjaga dari tidur membuatku urung untuk tidur. Aku lebih ingin melihat
pemandangan pagi di darerah Jawa Tengah yang menurut Kacunk sangat indah. Dan
ya, mataku terbuka lebar – lebar menyaksikan keindahan alam karunia Sang
Pencipta. Sederetan sawah – sawah nun hijau menyibakkan kabut pagi seolah
menyapaku. Sekumpulan anak – anak berseragam putih biru berbaris mengendarai
sepeda. Angkot – angkot yang terlampau penuh sesak oleh pelajar yang menumpang.
Dan deretan bukit yang tersibak oleh kabut tipis yang memancarkan semburat
indah dilangit. Aku bersyukur masih diberi nikmat sehat pada semua panca
inderaku untuk menjadi saksi keindahan pagi alam Jawa Tengah ini.

